Kendari- Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), melalui Dinas Pariwisata setempat, menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp1,2 miliar dari kunjungan wisatawan di daerah ini untuk periode Januari hingga Oktober 2026.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Kendari Hermaway saat ditemui di Kendari, Jumat, mengatakan bahwa PAD tersebut didapatkan dari pengelolaan pajak dan retribusi pengunjung di Pantai Nambo.

“Kemarin 27 Oktober 2026, alhamdulillah PAD yang dihasilkan khusus di Pantai Nambo saja dari retribusi, karena kan semua fasilitas gratis di dalam, jadi kita hanya fokus di penarikan retribusi dan parkir, itu sudah di angka Rp1.282.114.000,” kata Hermawaty.

Ia menjelaskan lonjakan pendapatan daerah ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Peningkatan ini didorong oleh sejumlah kebijakan strategis yang diterapkan Pemkot Kendari, salah satunya menggratiskan fasilitas umum seperti gazebo, toilet, dan air bersih untuk pengunjung.

Selain gratis fasilitasnya, katanya lagi, revitalisasi kawasan, perapian pemandangan, penjaminan kebersihan lingkungan, hingga pengawasan ketat terhadap integritas petugas tiket di pintu masuk menjadi kunci utama.

Pemkot Kendari berkomitmen menghilangkan praktik pungutan liar (pungli) guna memberikan kenyamanan maksimal bagi para wisatawan.

“Kami membangun sistem yang lebih baik dan menjaga integritas petugas pos retribusi. Pengunjung masuk sesuai jumlah dan wajib mendapat tiket sesuai aturan, tidak ada pemotongan atau transaksi tanpa tiket. Jika ada ketidaksesuaian, kami mengimbau pengunjung untuk segera melaporkan ke pos pengawasan,” ujarnya.

Hermawaty mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Oktober 2026, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Nambo tercatat sebanyak 96.628 orang.

Akumulasi pengunjung terdiri atas wisatawan lokal Kota Kendari serta pengunjung dari luar daerah, seperti Kabupaten Konawe dan wilayah sekitar, yang rutin menggelar kegiatan family gathering hingga liburan sekolah.

Bahkan, kata dia lagi, puncak penerimaan tertinggi tercatat terjadi pada musim libur sekolah. Hal juga diperoleh setelah Dinas Pariwisata setempat menyediakan fasilitas bermain anak yang bisa membuat pengunjung nyaman saat libur sekolah dan berwisata di Pantai Nambo.

“Memang pendapatan dan jumlah kunjungan wisatawan paling banyak waktu saat libur sekolah di tahun ini,” ujar Hermawaty.

Ia menambahkan kendati pengoperasian destinasi wisata oleh Dinas Pariwisata saat ini terfokus di Pantai Nambo, pihaknya menekankan bahwa dampak ekonomi sektor pariwisata tidak hanya diukur dari retribusi objek wisata semata, melainkan dari ekosistem MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dan jasa secara luas.

Menurutnya, dampak wisata juga bisa diukur dari jumlah pengunjung yang memesan kamar hotel ketika ada event di Kota Kendari, pengunjung rumah makan dan produk UMKM atau olahan pangan yang dibeli.

“Kota Kendari merupakan kota jasa dan MICE. Setiap ada penyelenggaraan acara atau penguatan sektor pariwisata, dampaknya langsung dirasakan oleh okupansi hotel, restoran, pelaku UMKM, penyedia jasa rental kendaraan, hingga pedagang lokal di kawasan wisata,” kata Hermawaty lagi.

Untuk itu, kata dia, Pemkot Kendari terus mendorong optimalisasi dan penguatan kolaborasi antar-instansi guna mengembangkan destinasi wisata lain sebagai pendukung di Kota Kendari, seperti pengembangan Kawasan Tambat Labuh/Teluk Kendari yang dikelola Perumda serta Kebun Raya Nanga-Nanga di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup.

Pemkot setempat juga berupaya membuat kembali wisata buatan berfokus pada alam seperti yang pernah ada di Kendari, contohnya Tracking Mangrove, agar menopang pendapatan sektor wisata. (redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *