KENDARI,KABENGGA.ID.— Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FKIP Universitas Halu Oleo (UHO) menyoroti sistem keamanan di lingkungan kampus menyusul dugaan tindak pelecehan seksual berupa begal payudara yang dialami seorang mahasiswi FKIP UHO saat melintas di jalan dalam kawasan kampus pada Minggu malam (18/10/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi ketika korban hendak pulang setelah mengikuti kegiatan kampus. Saat itu, korban mengendarai sepeda motor seorang diri menuju kawasan Perumahan Dosen (Perdos) UHO.
Ketika tiba di perempatan Fakultas Pertanian UHO, korban berbelok ke kanan menuju arah SD Negeri 100 Kendari. Namun, secara tiba-tiba, seorang pengendara sepeda motor yang tidak dikenal mengikuti korban dari belakang.
Merasa tidak nyaman karena terus diikuti, korban kemudian menepi secara perlahan dengan maksud memberikan jalan kepada pengendara tersebut. Namun, situasi itu diduga dimanfaatkan pelaku untuk melakukan aksinya terhadap korban.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas sistem keamanan di lingkungan Universitas Halu Oleo, khususnya pengawasan petugas keamanan di titik-titik rawan serta ketersediaan fasilitas penerangan jalan di kawasan kampus.
Ketua Komisi III DPM FKIP UHO Bidang Advokasi dan HAM, Muhammad Ilham, mempertanyakan keberadaan dan efektivitas pengawasan petugas keamanan yang berjaga di perempatan Fakultas Pertanian UHO.
Ia juga menyoroti minimnya penerangan lampu jalan di jalur menuju SD Negeri 100 Kendari yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pihak universitas.
Menurutnya, lingkungan kampus seharusnya menjadi ruang yang aman bagi seluruh mahasiswa, khususnya mahasiswi yang beraktivitas hingga malam hari. Keamanan kampus tidak boleh hanya menjadi formalitas, tetapi harus diwujudkan melalui pengawasan yang efektif dan fasilitas pendukung yang memadai.
“Kami mendesak pihak Universitas Halu Oleo untuk segera menindaklanjuti persoalan ini. Bagaimana bisa dugaan tindak pelecehan seperti ini terjadi di lingkungan kampus? Mau sampai berapa banyak korban lagi agar persoalan keamanan ini benar-benar diselesaikan?” tegas Muhammad Ilham.
Ia juga meminta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Halu Oleo dan pihak universitas agar tidak tinggal diam dalam menyikapi peristiwa tersebut. Menurutnya, diperlukan langkah konkret untuk memastikan keamanan mahasiswa, bukan sekadar pernyataan tanpa tindak lanjut.
“Seharusnya BEM UHO dan pihak Universitas Halu Oleo segera memberikan respons dan kejelasan terkait persoalan ini. Jangan hanya duduk diam, tutup mata dan telinga. Keselamatan mahasiswa harus menjadi prioritas utama.
Kami meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan, peningkatan patroli pada malam hari, serta perbaikan penerangan jalan di titik-titik yang minim cahaya,” ujarnya.
DPM FKIP UHO menilai bahwa dugaan peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pengelola kampus. Penguatan sistem keamanan perlu dilakukan melalui peningkatan pengawasan petugas keamanan, pemeriksaan titik-titik rawan, penyediaan penerangan jalan yang memadai, serta mekanisme pelaporan dan penanganan korban yang mudah diakses.
Selain itu, pihak universitas diharapkan segera melakukan penelusuran terhadap kejadian tersebut dengan tetap menjaga privasi dan keselamatan korban. Langkah ini penting agar peristiwa serupa dapat dicegah dan seluruh mahasiswa dapat menjalankan aktivitas akademik tanpa rasa takut.
DPM FKIP UHO menegaskan bahwa keamanan dan keselamatan mahasiswa merupakan tanggung jawab yang harus menjadi perhatian bersama. Kampus tidak hanya dituntut menjadi tempat berlangsungnya kegiatan akademik, tetapi juga harus mampu memberikan perlindungan bagi seluruh civitas akademika.(redaksi).
