Kendari – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Sulawesi Tenggara dan Dispar Kabupaten Kolaka Utara melatih para perajin di daerah tersebut meningkatkan kompetensi bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) lokal untuk mengolah limbah batok kelapa menjadi produk bernilai jual tinggi.
Kepala Dispar Provinsi Sultra Ridwan Badallah di Kendari, Jumat, mengatakan bahwa kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kolaka Utara ini berfokus pada pengembangan subsektor kriya berbasis pemanfaatan limbah lokal.
“Kegiatan hari ini bertujuan memberikan bimbingan teknis peningkatan kompetensi dan kapasitas kepada pelaku kreatif lokal di Kolaka Utara,” kata Ridwan Badallah.
Menurut Ridwan Badallah, sektor ekraf merupakan bagian krusial dalam memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata daerah. Tanpa sentuhan kreativitas dan pelestarian budaya, pariwisata tidak akan memiliki daya tarik yang berkelanjutan.
Ia menyebutkan ada empat subsektor ekraf unggulan yang terus dipacu pengembangannya di Sultra, yakni kuliner, kriya, fesyen, dan seni produk kerajinan lokal.
Melalui program berbasis limbah ini, para perajin dilatih untuk mengubah tempurung atau batok kelapa menjadi aneka produk cenderamata bernilai ekonomis, seperti mangkuk, lampu hias, dan aksesori yang diminati wisatawan sebagai oleh-oleh khas daerah
“Saya secara pribadi mengapresiasi para pelaku kreatif di Kolaka Utara yang mampu membuat hiasan lampu dan cenderamata dari batok kelapa. Pemerintah perlu hadir memberikan apresiasi serta membantu agar hasil akhir (finishing) produk mereka menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.
Ridwan menambahkan bahwa wilayah Kolaka Utara memiliki bahan baku batok kelapa yang sangat melimpah karena sebagian besar jalurnya dipenuhi perkebunan kelapa. Tantangan saat ini adalah menjaring dan membina lebih banyak sumber daya manusia yang memiliki bakat seni dan kreativitas tinggi.
Melalui penguatan sinergi antara ekonomi kreatif dan pariwisata, Pemerintah Provinsi Sultra berharap dapat menciptakan ekosistem wisata yang berkelanjutan, memberdayakan masyarakat lokal, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di kancah nasional.
“Kami juga terus berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait agar produk kerajinan dari batok kelapa ini nantinya memiliki pangsa pasar yang jelas dan luas,” tambah Ridwan Badallah (redaksi)
