MUNA, KABENGGA.ID – Kesepakatan damai yang sempat dicapai secara langsung tak serta-merta mengakhiri perselisihan. Dugaan pelecehan verbal melalui siaran langsung TikTok kembali memicu polemik hingga seorang guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di SMAN 1 Sawerigadi, Inda Rahma Sari, dilaporkan oleh Wulan Valenzya ke Polsek Watopute.

Wulan mengaku menjadi sasaran sindiran, komentar yang merendahkan kondisi fisik dan mental, hingga ucapan bernada ancaman yang diduga muncul dalam siaran langsung sejumlah akun media sosial.

Persoalan yang awalnya disebut telah diselesaikan melalui pertemuan langsung itu kembali mencuat di ruang digital. Kini, Wulan meminta persoalan tersebut ditindaklanjuti, sementara kepolisian menyatakan masih melakukan pendalaman terhadap pengaduannya.

Bermula dari Sindiran di Indomaret

Kepada wartawan, Wulan menceritakan konflik itu bermula saat Inda bersama seorang perempuan bernama Elis melakukan siaran langsung di sebuah gerai Indomaret, Rabu (21/10/2026).

Saat berada di lokasi, Wulan mengaku mendengar ucapan yang dianggapnya menyindir dirinya.

“Katanya, kita ketemu musuhnya Elis, tapi bukan saingan,” ungkap Wulan, menirukan ucapan yang menurutnya disampaikan saat itu.

Wulan menduga ucapan tersebut berkaitan dengan perselisihan lamanya bersama Elis, yang disebutnya merupakan sepupu Inda. Perselisihan itu terjadi sekitar setahun sebelumnya dan, menurut Wulan, telah dianggap selesai.

Merasa tersinggung, Wulan sempat mengunggah sindiran melalui Facebook. Namun, ia mengaku kemudian memilih menempuh jalur komunikasi pribadi dengan mengirimkan pesan langsung kepada Inda.

Dalam pesan tersebut, Wulan meminta penjelasan mengenai alasan dirinya dibicarakan saat siaran langsung. Ia juga mengingatkan agar persoalan tidak berkembang menjadi aksi saling menyindir di media sosial.

Menurut Wulan, pesan itu tidak mendapat balasan. Sebaliknya, ia mengaku mendapati pesan tersebut diunggah ke WhatsApp Story dengan mencantumkan namanya secara terbuka.

Kesepakatan Damai Tak Menghentikan Polemik

Wulan mengatakan dirinya mendatangi rumah Inda sekitar pukul 13.00 WITA untuk menyelesaikan persoalan secara langsung.

Pertemuan itu disebut menghasilkan kesepakatan damai. Wulan meminta unggahan WhatsApp Story yang mencantumkan namanya dihapus dan persoalan tidak lagi diumbar di media sosial. Sementara itu, Inda disebut meminta agar pesan Wulan melalui Facebook ditarik.

Wulan menyatakan kedua permintaan tersebut telah dipenuhi.

Namun, menurut pengakuannya, situasi kembali memanas pada malam hari setelah ia menemukan siaran langsung TikTok yang melibatkan Inda, Elis, seseorang yang disebut sebagai adik Inda, serta seorang perempuan yang diperkenalkan sebagai bidan bernama Tuti.

Wulan mengaku pembicaraan dalam siaran tersebut kembali menyinggung kedatangannya ke rumah Inda. Ia juga menyebut mendengar ucapan bernada ancaman, termasuk perkataan tentang membakar menggunakan bensin dan menginjak batang leher.

Selain itu, Wulan mengaku mendengar komentar yang merendahkan fisiknya dan menyinggung kondisi mentalnya. Menurut dia, pembicaraan serupa berlanjut hingga malam ketiga.

“Di malam ketiga itu kesabaran saya habis,” kata Wulan.

Jika rangkaian ucapan tersebut dapat dibuktikan, persoalan ini tidak lagi sekadar menyangkut saling sindir di media sosial. Namun, substansi dan konteks setiap ucapan tetap harus diperiksa berdasarkan bukti serta keterangan seluruh pihak.
Wulan Bantah Konflik Berkaitan dengan Asmara

Sebelum membawa persoalan itu ke kepolisian, Wulan mengaku bibinya telah mengingatkan pihak-pihak yang terlibat agar menghentikan siaran langsung supaya konflik tidak semakin meluas.
Wulan kemudian mengaku dihubungi keluarga Inda yang menyebut persoalan tersebut sebagai masalah sepele dan masih bisa diselesaikan. Ia mengatakan bersedia menunggu kedatangan keluarga pihak terlapor untuk membicarakan penyelesaian.

Namun, menurut Wulan, pertemuan tersebut justru diwarnai kemarahan. Ia juga mengaku mendapat pernyataan yang mengaitkan konflik dengan persoalan laki-laki, disertai tantangan agar dirinya melapor ke polisi.

Wulan membantah bahwa persoalan yang diadukannya berkaitan dengan asmara.
Ia mengakui Elis merupakan mantan pasangan pacarnya. Meski demikian, Wulan menegaskan fokus pengaduannya adalah dugaan ucapan yang dinilainya merendahkan martabat, bukan persoalan hubungan pribadi.

“Kalau saya ingin mempermasalahkan soal laki-laki, seharusnya sejak awal saya menyoroti Elis. Tetapi, yang saya persoalkan adalah apa yang saya alami dan pembicaraan yang menurut saya telah merendahkan harga diri saya,” demikian inti penjelasan Wulan.

Ia berharap pokok pengaduannya tidak dialihkan menjadi persoalan lain yang menurutnya tidak berkaitan langsung dengan kejadian tersebut.

Polsek Watopute Lakukan Pendalaman
Wulan akhirnya mendatangi Polsek Watopute untuk menyampaikan pengaduan. Ia mengaku petugas sempat berupaya menemui Inda, tetapi yang bersangkutan disebut beralasan sedang sakit.

Pada hari berikutnya, Wulan kembali mendatangi kepolisian untuk menunggu proses mediasi. Menurut keterangannya, upaya menemui Inda kembali dilakukan, tetapi ia mendapat informasi bahwa proses tersebut menunggu Elis pulang dari kampung karena sedang cuti.

Wulan mengaku bingung karena belum memperoleh kejelasan mengenai tindak lanjut pengaduannya.

Kapolsek Watopute, IPDA Anwar Sukma, membenarkan bahwa Wulan telah menyampaikan pengaduan kepada kepolisian.

“Ibu Wulan telah melapor dan anggota Polsek sudah menerima pengaduannya. Saat ini kami akan melakukan pendalaman masalah pengaduan Ibu Wulan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengaduan masih dalam tahap pendalaman. Belum ada kesimpulan hukum mengenai dugaan yang disampaikan Wulan.

Keluarga Minta Persoalan Ditangani Objektif

Konflik tersebut juga berdampak pada keluarga Wulan. Ibunya, Sitti Darning, mengaku mengalami tekanan dan stres akibat persoalan yang menimpa anaknya.
Ia berharap kepolisian menindaklanjuti pengaduan secara cepat, profesional, dan objektif agar perkara tersebut memperoleh kejelasan.

Keluarga berharap penyelesaian tidak hanya berorientasi pada mempertemukan para pihak, tetapi juga memeriksa bukti dan menggali keterangan secara menyeluruh.

Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Inda Rahma Sari belum memberikan tanggapan substantif mengenai tuduhan tersebut. Menurut keterangan yang diterima, Inda justru mempertanyakan siapa yang melaporkan dirinya.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh penjelasan lengkap dari Inda mengenai kronologi perselisihan, isi siaran langsung yang dipersoalkan, maupun tuduhan yang diarahkan kepadanya.

Redaksi tetap membuka ruang bagi Inda Rahma Sari dan pihak-pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini untuk menyampaikan klarifikasi atau hak jawab.
Etika Pendidik Ikut Menjadi Sorotan
Perselisihan pribadi yang dibawa ke ruang digital dapat berkembang menjadi persoalan serius ketika disertai dugaan penghinaan, penyebaran identitas, atau ucapan bernada ancaman.

Dalam kasus ini, status salah satu pihak sebagai tenaga pendidik turut memunculkan pertanyaan mengenai etika dan tanggung jawab dalam menggunakan media sosial. Namun, status pekerjaan bukan bukti pelanggaran, sehingga penilaian tetap harus didasarkan pada fakta yang terverifikasi.

Perhatian kini tertuju pada langkah kepolisian dalam menelusuri kronologi, memeriksa rekaman siaran langsung, serta meminta keterangan pihak-pihak terkait.

Bagi Wulan, persoalan ini menyangkut harga diri yang menurutnya telah direndahkan. Bagi semua pihak, proses pemeriksaan yang objektif menjadi jalan untuk mengurai fakta di tengah polemik yang telanjur meluas.

Penilis : Adam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *