JAWA TIMUR,KABENGGA.ID. — Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Erupsi terjadi pada Minggu (6/9) pukul 07.51 WIB, dengan kolom abu teramati membumbung hingga sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Berdasarkan laporan Badan Geologi, erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung selama 102 detik.
Aktivitas tersebut menjadi pengingat bahwa potensi bahaya Gunung Semeru masih harus diwaspadai, khususnya di kawasan aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak.
Badan Geologi meminta masyarakat dan pengunjung tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak, yang menjadi pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan ini berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, aktivitas masyarakat juga dilarang dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut masih rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat meluncur melalui aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Sejumlah jalur aliran yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan dan berpotensi menjadi jalur aliran lahar.
Masyarakat diminta tidak mengabaikan rekomendasi tersebut dan terus mengikuti informasi resmi terkait perkembangan aktivitas Gunung Semeru. Keselamatan harus menjadi prioritas, terutama bagi warga yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan yang berpotensi terdampak.(**).
