KENDARI,KABENGGA. ID. (30 Agustus 2026). — Kampus semestinya tidak berhenti sebagai tempat mahasiswa mengejar nilai dan gelar. Ia harus menjadi ruang tumbuhnya gagasan, perdebatan intelektual, kebebasan berpikir, sekaligus tempat mahasiswa menguji keberanian untuk menyampaikan kritik.
Namun, kondisi ruang diskusi mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) dinilai mulai kehilangan denyutnya. Sepinya ruang-ruang diskusi dianggap sebagai persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan.
Sekretaris Menteri Pergerakan FISIP UHO, Raja Saputra Pratama, menyoroti fenomena tersebut. Ia mempertanyakan ke mana arah kehidupan intelektual mahasiswa jika ruang untuk bertukar gagasan justru semakin jarang digunakan.
Menurut Raja, kampus seharusnya menjadi ruang yang memungkinkan mahasiswa berbeda pendapat tanpa merasa tertekan, takut, atau terintimidasi.
“Kalau ruang diskusi di kampus semakin kosong, kita harus bertanya, ada apa dengan kehidupan intelektual mahasiswa hari ini? Kampus jangan hanya menjadi tempat datang untuk mengikuti perkuliahan, mendapatkan nilai, kemudian pulang. Kampus harus menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan menguji pikiran,” ujar Raja.
Ketika Ruang Diskusi Mulai Sepi
Raja menilai terdapat sejumlah faktor yang dapat menyebabkan tradisi diskusi mahasiswa semakin melemah.
Salah satunya adalah minimnya dukungan terhadap aktivitas yang mendorong budaya berpikir kritis. Namun, ia juga mengakui persoalan tersebut tidak semata-mata dapat dibebankan kepada birokrasi kampus.
Mahasiswa, kata dia, juga harus mengambil tanggung jawab untuk membangun ruang-ruang diskusi secara mandiri.
Sebab, kebebasan akademik tidak akan tumbuh apabila mahasiswa sendiri berhenti bertanya, berhenti berdebat, dan memilih diam ketika melihat persoalan di sekitarnya.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang dituntut mampu membaca persoalan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, hingga berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Karena itu, perbedaan pandangan seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Justru dari perbedaan itulah tradisi intelektual dibentuk.
Kampus Tak Boleh Takut pada Kritik
Raja menegaskan, kritik terhadap birokrasi kampus tidak otomatis berarti mahasiswa harus menjadi pihak yang berseberangan dengan institusi.
Sebaliknya, kritik merupakan bagian dari proses akademik selama disampaikan berdasarkan argumentasi, data, dan dilakukan secara bertanggung jawab.
Ia berharap birokrasi kampus dapat membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk berdiskusi, berorganisasi, menyampaikan pendapat, serta mengembangkan kemampuan intelektual.
“Jangan sampai sistem pendidikan hari ini hanya mencetak kaum-kaum penurut terhadap dominasi kekuasaan. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang mampu berpikir secara mandiri, memiliki keberanian menyampaikan kebenaran, serta mampu mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Jangan Sampai Kampus Kehilangan Tradisi Intelektual
Bagi Raja, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah forum diskusi digelar atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah kampus masih menyediakan ekosistem yang memungkinkan mahasiswa bertanya dan berbeda pendapat secara sehat.
Jika ruang diskusi terus menyusut, ia khawatir mahasiswa perlahan kehilangan daya kritis. Pendidikan kemudian berisiko dipersempit menjadi rutinitas perkuliahan, tugas, ujian, nilai, dan kelulusan—tanpa proses pembentukan keberanian intelektual.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa FISIP UHO menghidupkan kembali berbagai forum diskusi, baik secara formal maupun informal.
Tema yang dibahas pun tidak harus selalu berkaitan dengan persoalan kampus. Persoalan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kebijakan publik, hingga problem masyarakat dapat menjadi bahan untuk mengasah kemampuan berpikir mahasiswa.
Raja berharap FISIP UHO kembali menjadi ruang intelektual yang hidup—tempat mahasiswa bukan hanya belajar dari dosen, tetapi juga belajar dari perbedaan pandangan sesama mahasiswa.
“Jangan biarkan kampus kehilangan tradisi intelektualnya. Mari kita hidupkan kembali ruang-ruang diskusi. Kita berbeda pilihan, berbeda pandangan, bahkan boleh berbeda kesimpulan, tetapi dari perbedaan itulah kita belajar menjadi manusia yang berpikir,” tutup Raja.
Catatan : Pernyataan mengenai dugaan intimidasi dan minimnya dukungan birokrasi dalam tulisan ini ditempatkan sebagai pandangan atau penilaian narasumber, bukan sebagai fakta yang telah terbukti. Untuk publikasi, pihak FISIP UHO maupun birokrasi kampus sebaiknya diberi ruang memberikan tanggapan agar pemberitaan tetap berimbang.(Redaksi).
