KENDARI,KABENGGA.ID – Gelombang kritik terhadap pelayanan di Bandar Udara Halu Oleo kembali mencuat. Bukan sekadar keluhan biasa, suara publik kini mengarah pada dugaan lemahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga sikap pelayanan yang dinilai jauh dari standar.
Sorotan terbaru datang dari warganet di media sosial, Senin (30/3/2026). Sejumlah pengguna mengungkap pengalaman serupa: pelayanan yang kaku, minim senyum, hingga sikap petugas yang dianggap tidak bersahabat.
Akun Facebook Dullah Onepiece secara gamblang menyebut buruknya keramahan petugas.
“Sudah sering ke bandara, pelayanannya kurang senyum,” tulisnya.
Komentar lain bahkan lebih tajam. Seorang netizen menilai sebagian petugas menunjukkan sikap yang tidak profesional.
“Bergaya saja kerjanya, merasa paling sibuk, seperti yang punya pesawat,” ungkapnya.
Kritik juga mengarah pada kualitas SDM. Netizen Ismail Ode menegaskan bahwa persoalan ini bukan hal sepele.
“Itulah pentingnya SDM,” ujarnya singkat, namun menohok.
Sementara itu, akun Tunggal Dara menyoroti aspek yang lebih mendasar: kepekaan dan etika pelayanan.
“Karena kurang kesadaran dan kurang kecakapan. Malas tahu,” tulisnya.
Viral, Tapi Bukan Kasus Baru
Sorotan ini bukan kali pertama. Sebelumnya, keluhan serupa viral melalui video di TikTok yang diunggah akun Eskrimmerkuri pada Sabtu (28/3/2026).
Dalam video tersebut, seorang penumpang mengaku kebingungan mencari lokasi check-in maskapai Pelita Air. Alih-alih mendapat bantuan yang jelas, ia justru merasa diabaikan.
Lebih jauh, penumpang itu mengaku mendengar komentar bernada merendahkan dari petugas, bahkan disertai tawa. Jika benar, ini bukan sekadar soal pelayanan lambat—melainkan menyentuh aspek etika dan profesionalisme yang serius.
Rantai Masalah yang Berulang
Masalah di Bandara Halu Oleo tampak bukan kasus tunggal. Sebelumnya, polemik transportasi online juga sempat memicu kritik luas.
Ketiadaan kerja sama resmi membuat layanan transportasi berbasis aplikasi belum diizinkan beroperasi di area bandara. Dampaknya, muncul keluhan dari penumpang hingga dugaan intimidasi terhadap pengemudi.
Pemerintah daerah pun sempat turun tangan dan menjanjikan evaluasi. Namun hingga kini, berbagai persoalan pelayanan dinilai masih berulang dengan pola yang sama: lamban ditangani, minim pembenahan.
Ujian Serius Pintu Gerbang Sultra
Sebagai gerbang utama Sulawesi Tenggara, Bandara Halu Oleo seharusnya menjadi wajah pertama yang mencerminkan kualitas pelayanan daerah. Namun, rentetan keluhan ini justru memperlihatkan celah yang belum tersentuh perbaikan serius.
Kini publik tidak lagi sekadar mengeluh—mereka menunggu tindakan nyata. Pertanyaannya, apakah kritik yang terus berulang ini akan berujung pada pembenahan, atau kembali berlalu tanpa perubahan berarti?**
