MAKASSAR — Waktu membuktikan, perjalanan panjang tak pernah mengkhianati hasil. Setelah 43 tahun merantau meninggalkan Makassar, Zainal Arifin Paliwang kembali dengan identitas baru—seorang Gubernur Kalimantan Utara yang lahir dari tempaan pengalaman dan keteguhan menghadapi tantangan.
Kepulangan itu menjadi momen emosional sekaligus inspiratif dalam ajang Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI yang digelar di Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026). Di hadapan sekitar 2.000 saudagar Bugis-Makassar, Zainal tidak sekadar hadir, tetapi membawa cerita tentang arti perjuangan, identitas, dan kepemimpinan.
Lahir di Makassar pada 6 Desember 1962, Zainal memulai langkah pendidikannya dari SDS Angkasa 2 Mandai, Kabupaten Maros. Ia kemudian menamatkan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Ujungpandang pada 1986—tahun yang menjadi titik awal perantauannya.
Di usia muda, ia memilih meninggalkan kampung halaman menuju Magelang untuk menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian. Sebuah keputusan berani yang kelak menjadi fondasi perjalanan kariernya hingga mencapai posisi strategis di tingkat nasional.
Dalam forum yang mengusung tema “Saudagar Tangguh, Ekonomi Tumbuh”, Zainal tampil sebagai narasumber kunci di Phinisi Ballroom. Namun, yang ia bawa bukan sekadar paparan angka dan data, melainkan gagasan besar tentang kepemimpinan yang berakar pada nilai budaya dan keberanian menembus batas.
Di hadapan para pengusaha perantau, ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak pernah lahir dari kenyamanan. Sebaliknya, ia tumbuh dari keberanian menghadapi keterbatasan dan kemampuan membaca peluang di tengah tantangan.
“Kesuksesan adalah buah dari keberanian menembus batas.”
pesan itu bukan sekadar retorika, melainkan refleksi dari perjalanan hidupnya sendiri. Sebagai mantan Wakapolda Kalimantan Utara, Zainal memahami betul bagaimana wilayah terpencil kerap dipandang sebagai hambatan, padahal menyimpan potensi besar jika dikelola dengan visi dan keberanian.
Baginya, masa depan ekonomi—terutama di kawasan beranda utara Indonesia—bergantung pada keberanian para pemimpin dan saudagar untuk berpikir melampaui batas geografis dan keterbatasan.
Kepulangannya ke Makassar kali ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi menjadi simbol kuat bahwa seorang perantau, dengan tekad dan keberanian, mampu kembali membawa perubahan dan inspirasi bagi tanah kelahirannya.(**).
