BUTON TENGAH – Pagi yang seharusnya menjadi awal aktivitas jual beli di Pasar Lombe, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara, berubah mencekam setelah kebakaran hebat melanda deretan rumah toko (ruko), Kamis (5/3/2026) sekitar pukul 06.30 WITA.

Api tiba-tiba muncul di kompleks penjualan sayur saat para pedagang baru mulai membuka lapak. Dalam hitungan menit, kobaran api membesar dan menjalar cepat di antara bangunan ruko yang berdempetan.

Kepanikan pun tak terhindarkan. Warga dan pedagang berlarian menyelamatkan barang dagangan seadanya, sementara sebagian lainnya berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya.

Namun upaya tersebut tak mampu membendung amukan si jago merah. Sedikitnya 10 unit ruko akhirnya hangus terbakar dalam peristiwa tersebut.

Warga sekitar berinisiatif membuka atap beberapa ruko di sekitar titik kebakaran untuk mencegah api merambat lebih luas. Mereka juga menyiramkan air menggunakan ember dan selang seadanya sembari menunggu bantuan datang.

Mobil pemadam kebakaran akhirnya tiba di lokasi beberapa saat kemudian. Sayangnya, proses pemadaman sempat terkendala karena kendaraan pemadam tidak dapat menjangkau langsung sumber api akibat akses jalan yang sempit di dalam area pasar.

Petugas terpaksa mencari jalur alternatif. Selang air dialirkan melalui salah satu ruko yang memiliki pintu belakang tembus ke area dekat titik kebakaran dengan jarak sekitar 30 meter.

Setelah hampir tiga jam berjibaku bersama warga dan personel Polres Buton Tengah, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 09.11 WITA.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun kerugian material diperkirakan cukup besar mengingat sedikitnya 10 unit ruko ludes terbakar. Hingga kini, jumlah kerugian masih dalam proses pendataan.

Kepala Bidang Pencegahan, Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan Peralatan Dinas Pemadam Kebakaran Buton Tengah, Nasarudin, mengungkapkan pihaknya menerima laporan kebakaran dari warga sekitar pukul 06.40 WITA.

“Mendapat laporan itu, kami langsung mengerahkan mobil pemadam yang siaga di Kecamatan Lakudo dan Kecamatan Mawasangka Tengah menuju lokasi,” kata Nasarudin.

Namun setibanya di lokasi, petugas dihadapkan pada persoalan klasik: akses yang sempit membuat mobil pemadam tidak bisa mendekati titik api.

“Mobil tidak bisa masuk mendekati sumber api. Akhirnya kami mengalirkan selang melalui salah satu ruko yang pintu belakangnya tembus ke titik kebakaran dengan jarak sekitar 30 meter,” jelasnya.

Selain persoalan akses, keterbatasan armada pemadam kebakaran juga menjadi hambatan. Kendaraan harus bolak-balik mengisi air ketika persediaan di tangki habis.

Kondisi ini kembali menyoroti minimnya fasilitas penanggulangan kebakaran di Buton Tengah, terutama di kawasan padat seperti pasar tradisional.

Nasarudin berharap ke depan setiap kecamatan di wilayah Buton Tengah dapat memiliki armada mobil pemadam kebakaran sendiri agar penanganan kebakaran bisa dilakukan lebih cepat dan potensi kerugian dapat diminimalkan.(redaksi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *