Kendari – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu dan Semarak Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2026 sebagai upaya mendorong pelestarian bahasa daerah melalui keterlibatan generasi muda di Lippo Plaza Kendari, Senin, 26 Oktober 2026,

Kegiatan tersebut merupakan ajang apresiasi bagi para pemenang Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah mengikuti perlombaan menggunakan bahasa daerah Tolaki, Wolio, dan Muna.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Dewi Pridayanti, mengatakan revitalisasi bahasa daerah perlu terus dilakukan karena penggunaan bahasa daerah di kalangan anak-anak menghadapi tantangan, terutama ketika bahasa daerah mulai dianggap kurang membanggakan dibandingkan bahasa asing.
“Membuat anak-anak mau menggunakan bahasa daerah saja sudah menjadi tantangan tersendiri,” ujar

Dewi dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, Festival Tunas Bahasa Ibu merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan minat generasi muda dalam menggunakan bahasa daerah, meskipun kegiatan tersebut belum cukup untuk melestarikan bahasa daerah secara menyeluruh.

Menurut Dewi, program revitalisasi bahasa daerah di Sulawesi Tenggara telah memasuki tahun ketiga, dengan cakupan bahasa yang bertambah secara bertahap, dari bahasa Tolaki pada tahun pertama, kemudian Tolaki dan Wolio pada tahun kedua, hingga mencakup bahasa Muna pada tahun ketiga.

Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota dapat mengambil peran lebih besar dalam pelestarian bahasa daerah melalui kebijakan yang mendukung penggunaannya di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
“Bahasa daerah harus terus digiatkan, baik di sekolah, di rumah, maupun di tengah masyarakat,” katanya.

Dalam pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi tahun ini, perlombaan digelar secara daring dengan melibatkan 74 siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dari 10 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara.

Peserta tersebut merupakan hasil seleksi pada tingkat kabupaten dan kota yang berasal dari wilayah sasaran program revitalisasi bahasa daerah tahun 2026.

Dari keseluruhan peserta, sebanyak 45 siswa mengikuti lomba bahasa Tolaki dari Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, dan Kolaka Timur.

Sementara itu, lomba bahasa Muna diikuti 22 peserta dari Kabupaten Muna dan Muna Barat, sedangkan bahasa Wolio diikuti tujuh siswa dari Kota Baubau dan Kabupaten Buton Selatan.

Terdapat tiga cabang perlombaan yang dipertandingkan, yakni menyanyi, mendongeng, dan menulis cerpen, dengan seluruh penampilan dan karya menggunakan bahasa daerah sesuai kategori masing-masing.

Untuk menilai kemampuan peserta, panitia melibatkan 14 orang juri yang terdiri atas pakar dan maestro bahasa daerah, akademisi, praktisi, serta pegiat seni dan budaya yang mewakili bahasa Tolaki, Wolio, dan Muna.

Panitia telah mengumumkan para pemenang pada 21 Oktober 2026, dengan total 31 pemenang yang terdiri atas 18 pemenang bahasa Tolaki, tiga pemenang bahasa Wolio, dan 10 pemenang bahasa Muna.

Selain itu, lima peserta menerima apresiasi, masing-masing tiga siswa dari kategori bahasa Wolio dan dua siswa dari kategori bahasa Muna.

Dewi menyampaikan bahwa dukungan guru, orang tua, pemerintah daerah, dan lembaga adat diperlukan agar upaya pelestarian bahasa daerah tidak hanya berlangsung selama perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ia menilai keluarga memiliki peran penting karena anak-anak dapat terus menggunakan bahasa daerah ketika orang tua membiasakan komunikasi dalam bahasa tersebut di rumah.

Balai Bahasa Sulawesi Tenggara juga mendorong pemerintah daerah untuk menginisiasi peraturan daerah, surat edaran, atau kebijakan lain yang mendukung pengajaran dan penggunaan bahasa daerah di satuan pendidikan.

Menurut Dewi, kebijakan tersebut dapat memberikan dasar yang lebih kuat bagi sekolah untuk melaksanakan pelestarian bahasa daerah secara berkelanjutan.

Selain pemerintah daerah dan satuan pendidikan, lembaga adat diharapkan terus terlibat dalam memperluas penggunaan bahasa daerah di ruang publik, termasuk melalui pengumuman dalam bahasa daerah di fasilitas umum.

Sementara itu, Tim Kerja Pelindungan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Zakiyah M. Husna, menjelaskan bahwa Festival Tunas Bahasa Ibu tahun ini melibatkan peserta dari 10 kabupaten dan kota yang menjadi wilayah sasaran revitalisasi bahasa daerah. ( redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *