MUNA BARAT,KABENGGA.ID. — Kehidupan Si Opi, seorang lanjut usia (lansia) warga Desa Tondasi, kecmatan tiworo Utara Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, jauh dari kata mewah. Di usia senjanya, ia harus menjalani kehidupan dalam kondisi serba terbatas setelah mengalami kelumpuhan yang membuatnya tidak mampu berjalan maupun bekerja.
Hari-hari Si Opi kini lebih banyak dihabiskan di rumah. Kondisi fisiknya membuat ia membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.
Si Opi tinggal bersama anaknya yang kini harus menjadi orang yang merawat dan mendampingi dirinya. Kondisi tersebut membuat aktivitas sang anak juga terbatas karena sebagian besar waktunya harus digunakan untuk mengurus kebutuhan orang tuanya yang sudah tidak mampu berjalan.
“Sekarang saya lebih banyak di rumah karena harus merawat orang tua. Beliau sudah tidak bisa berjalan, jadi aktivitas sehari-hari harus dibantu. Saya juga tidak bisa terlalu banyak beraktivitas di luar karena harus mendampingi orang tua,” ujar anak Si Opi.
Menurutnya, kondisi yang mereka hadapi semakin berat karena rumah yang ditempati bersama Si Opi sudah mengalami kerusakan dan kondisinya nyaris roboh.
“Rumah ini sudah seperti ini kondisinya. Kami tentu khawatir kalau sewaktu-waktu roboh. Apalagi orang tua saya tidak bisa berjalan, jadi kalau terjadi sesuatu akan sulit untuk menyelamatkan beliau,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi mereka dan memberikan bantuan untuk memperbaiki tempat tinggal yang saat ini menjadi satu-satunya tempat mereka berlindung.
“Kami berharap pemerintah bisa datang melihat kondisi kami. Kalau bisa rumah ini diperbaiki karena sudah rusak. Kami hanya ingin tinggal di tempat yang aman,” ujarnya.
Kondisi Si Opi dan anaknya tersebut kemudian mendapat perhatian dari LSM GMBI Muna Barat.
Ketua LSM GMBI Muna Barat, Sahri Pesisir, mendesak Pemerintah Desa Tondasi dan Pemerintah Kabupaten Muna Barat agar segera turun tangan melihat langsung kondisi Si Opi.
Menurut Sahri, kondisi seorang lansia yang sudah tidak mampu berjalan dan bekerja, ditambah dengan kondisi rumah yang nyaris roboh, merupakan persoalan yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
“Kehidupan Si Opi jauh dari kata mewah. Beliau sudah tidak mampu berjalan dan bekerja. Anak yang tinggal bersamanya juga harus merawat orang tuanya setiap hari, sehingga aktivitas anaknya menjadi terbatas,” ujar Sahri Pesisir.
Sahri menilai pemerintah harus hadir untuk memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga lanjut usia yang berada dalam kondisi keterbatasan.
Ia meminta Pemerintah Desa Tondasi tidak hanya melakukan pendataan, tetapi turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi rumah dan kehidupan Si Opi bersama anaknya.
Jika hasil pengecekan menunjukkan rumah tersebut sudah tidak layak huni dan membahayakan keselamatan, pemerintah diminta segera mencarikan solusi, baik melalui perbaikan rumah, bantuan rumah layak huni, maupun bentuk bantuan lainnya sesuai program yang tersedia.
“Jangan hanya didata. Harus ada tindakan nyata. Kalau memang rumahnya sudah tidak layak dan membahayakan, pemerintah harus segera mencari solusi,” tegas Sahri.
Menurut Sahri, persoalan tersebut bukan hanya mengenai kondisi bangunan, tetapi juga menyangkut keselamatan seorang lansia yang sudah tidak mampu berjalan serta anak yang harus merawatnya setiap hari.
“Anaknya harus merawat orang tua yang kini lumpuh. Tentu aktivitasnya terbatas karena harus mendampingi dan memenuhi kebutuhan orang tuanya. Kondisi seperti ini harus dilihat secara menyeluruh,” katanya.
LSM GMBI Muna Barat juga meminta Pemerintah Desa Tondasi segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Muna Barat untuk mencari solusi terbaik bagi Si Opi dan anaknya.
Jika kemampuan pemerintah desa terbatas, pemerintah kabupaten diharapkan dapat mengambil langkah melalui program bantuan yang tersedia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sahri juga mengingatkan pemerintah agar tidak menunggu sampai terjadi musibah.
“Jangan menunggu rumah benar-benar roboh baru pemerintah bergerak. Kita harus mencegah sebelum terjadi musibah. Apalagi Si Opi tidak mampu berjalan, sehingga akan sangat sulit menyelamatkan diri jika terjadi keadaan darurat,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Desa Tondasi dan Pemerintah Kabupaten Muna Barat dapat segera turun langsung melihat kondisi tersebut dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
Menurut Sahri, rumah yang aman dan layak bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar bagi setiap warga.
“Kita tidak bicara soal kemewahan. Kita bicara soal keselamatan. Si Opi membutuhkan tempat tinggal yang aman, sementara anaknya juga membutuhkan dukungan karena harus merawat orang tuanya setiap hari,” kata Sahri.
Kondisi Si Opi menjadi gambaran masih adanya warga yang membutuhkan kehadiran pemerintah secara nyata. Di usia senjanya, ia harus menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan, sementara anaknya harus membagi waktu dan aktivitas untuk merawat orang tua yang kini lumpuh.
Karena itu, Ketua LSM GMBI Muna Barat Sahri Pesisir kembali mendesak Pemerintah Desa Tondasi dan Pemerintah Kabupaten Muna Barat agar segera turun tangan, melihat kondisi Si Opi dan anaknya secara langsung, serta mengambil langkah konkret terhadap rumah yang disebut nyaris roboh.
“Jangan tunggu ada musibah. Selamatkan dulu penghuninya. Si Opi sudah tidak mampu berjalan dan bekerja, sementara anaknya harus merawat orang tuanya. Pemerintah harus hadir dan memberikan solusi,” pungkas Sahri Pesisir.
“Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Desa Tondasi maupun Pemerintah Kabupaten Muna Barat belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi Si Opi dan rencana penanganan terhadap rumah yang disebut nyaris roboh.”
