BOMBANA — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, mengembangkan alat penyiram tanaman otomatis berbasis mikrokontroler Arduino melalui kegiatan Studi Independent Mandiri Berdampak (SIM-B) di Desa Rakadua, Kecamatan Poleang Barat, Kabupaten Bombana.
Kegiatan yang berlangsung pada periode Juli hingga Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah melalui teknologi tepat guna yang diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Tim SIM-B berada di bawah bimbingan Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Bardan Bulaka, S.Pd., M.Pfis. Adapun tim pelaksana terdiri atas Ikbal Saputra selaku ketua, bersama Kheriyana, Rahmi, dan Nurhikmaw Ansari sebagai anggota.
Sebelum diterjunkan ke lokasi, para mahasiswa terlebih dahulu mengikuti pembekalan dan pelepasan resmi. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan tim memahami tujuan, mekanisme, serta rangkaian pelaksanaan program SIM-B.
Awali dengan Koordinasi dan Identifikasi Kebutuhan
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama Pemerintah Desa Rakadua. Tim melakukan kunjungan langsung dan diterima oleh Kepala Desa, Sekretaris Desa, serta jajaran aparat desa.
Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa memperkenalkan program sekaligus menyampaikan tujuan dan rencana kegiatan. Koordinasi ini menjadi dasar untuk membangun kerja sama antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat.
Selanjutnya, tim melakukan survei dan identifikasi kebutuhan di lokasi. Kegiatan meliputi pengamatan kondisi lahan, penentuan titik pemasangan alat, pengecekan sumber air dan listrik, serta pembersihan dan penataan lahan yang akan digunakan sebagai lokasi uji coba.
Pada tahap tersebut, mahasiswa juga menyiapkan tanaman yang menjadi objek penerapan sistem penyiraman otomatis.
Perakitan hingga Pengujian Alat
Setelah lokasi ditentukan, tim menyiapkan sejumlah komponen untuk merancang sistem penyiraman otomatis. Alat dirakit menggunakan mikrokontroler Arduino yang terintegrasi dengan sensor kelembapan tanah dan pompa air.
Sebelum diterapkan di Desa Rakadua, sistem terlebih dahulu diuji di kampus. Pengujian dilakukan untuk memastikan setiap komponen bekerja dan sistem dapat merespons kondisi kelembapan tanah sesuai rancangan.
Setelah dinyatakan siap, alat dibawa ke lokasi mitra untuk dipasang. Sistem ditempatkan di area yang memiliki akses terhadap sumber listrik dan air, sedangkan sensor kelembapan dipasang pada media tanam untuk membaca kondisi tanah.
Pengujian lapangan kemudian dilakukan untuk memastikan seluruh sistem berjalan sebagaimana mestinya. Hasil pengujian menunjukkan alat mampu membaca tingkat kelembapan tanah dan mengaktifkan mekanisme penyiraman secara otomatis sesuai kondisi yang telah ditentukan.
DPL Dorong Keberlanjutan Teknologi
Dosen Pendamping Lapangan, Bardan Bulaka, S.Pd., M.Pfis., mengapresiasi capaian mahasiswa selama pelaksanaan program.
«“Kegiatan SIM-B ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa ilmu fisika dan elektronika yang dipelajari di kampus dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar merancang alat, tetapi juga belajar berkomunikasi, beradaptasi, dan bekerja sama dengan masyarakat desa. Itu merupakan bagian penting dari proses pembelajaran yang tidak bisa didapatkan hanya di ruang kelas,” ujar Bardan.»
Ia menekankan agar alat yang telah diterapkan tidak berhenti digunakan setelah program berakhir.
«“Harapan saya, alat ini tidak berhenti berfungsi begitu program selesai, tetapi benar-benar dirawat dan dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Rakadua dalam jangka panjang. Ke depan, semoga semakin banyak mahasiswa Pendidikan Fisika USN Kolaka yang terdorong menghasilkan karya teknologi tepat guna serupa,” tambahnya.»
Mahasiswa: Teknologi Sederhana, Manfaat Nyata
Ketua tim, Ikbal Saputra, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat.
«“Melalui kegiatan SIM-B ini, kami ingin menghadirkan teknologi sederhana yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Alat ini diharapkan dapat membantu proses penyiraman tanaman menjadi lebih efektif dan efisien serta mengurangi ketergantungan pada penyiraman secara manual,” ujar Ikbal.»
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada DPL, Pemerintah Desa Rakadua, dan masyarakat yang telah memberikan dukungan selama kegiatan berlangsung.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penerapan teknologi tersebut.
Diharapkan Berkelanjutan
Melalui program SIM-B, tim berharap alat penyiram tanaman otomatis berbasis Arduino tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dirawat oleh masyarakat Desa Rakadua.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa Pendidikan Fisika USN Kolaka dalam menghadirkan teknologi tepat guna yang sederhana, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Selain menghasilkan inovasi, program tersebut juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat serta menerapkan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
