Kendari – Ketua Kerukunan Wuna Barakati (KWB) se-Jabodetabek, Wa Ode Kartika Sari, S.H., M.H., CLI, mengajak seluruh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya kaum perempuan Muna, untuk berpartisipasi dan memeriahkan Festival Budaya Muna 2026 yang akan digelar di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari pada 19 Juli 2026.
Menurutnya, Festival Budaya Muna tidak hanya menjadi ajang silaturahmi masyarakat Wuna dari berbagai daerah, tetapi juga merupakan kesempatan emas untuk memperkenalkan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat melalui produk-produk unggulan.
Kartika mengungkapkan, berbagai kudapan khas seperti Lapa-Lapa, Katumbu, Tunuha, aneka olahan pangan tradisional, hingga hasil tenunan dan berbagai kerajinan khas Muna harus menjadi bagian penting dalam Festival Budaya Muna 2026.
“Warisan kuliner dan kerajinan kita bukan sekadar produk untuk dijual, tetapi merupakan identitas budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Ketika masyarakat menikmati Lapa-Lapa, Katumbu, Tunuha, atau melihat indahnya tenunan dan kerajinan Muna, sesungguhnya mereka sedang mengenal sejarah, tradisi, dan karakter masyarakat Wuna,” ungkapnya.
Wa Ode menilai keterlibatan UMKM perempuan akan memberikan warna tersendiri dalam festival tersebut. Selain memperkuat ekonomi keluarga, kehadiran mereka juga menjadi bentuk nyata pelestarian budaya melalui produk-produk lokal yang autentik.
“Perempuan memiliki peran strategis sebagai penjaga tradisi di lingkungan keluarga. Dari tangan-tangan perempuan lahir resep-resep warisan leluhur, lahir tenunan yang sarat makna, dan lahir berbagai karya kerajinan yang menjadi kebanggaan masyarakat Muna. Karena itu, saya berharap para ibu, pelaku usaha, dan generasi muda perempuan tidak ragu untuk mengambil bagian dalam festival ini,” ungkapnya.
Wa Ode kartika juga berharap panitia dapat menghadirkan ruang khusus bagi UMKM agar produk-produk unggulan masyarakat Muna memperoleh perhatian yang lebih luas dari pengunjung, wisatawan, maupun pelaku usaha.
Festival Budaya Muna harus menjadi etalase budaya sekaligus etalase ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang pasar bagi produk-produk lokal.
“Ketika budaya dan ekonomi berjalan beriringan, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Festival ini bukan hanya tentang melestarikan adat, tetapi juga tentang menghadirkan kesejahteraan melalui pemberdayaan UMKM lokal,” ujarnya.
Wa Ode Kartika Sari mengajak seluruh masyarakat Wuna, baik di kampung halaman maupun di tanah rantau, untuk bersama-sama menyukseskan Festival Budaya Muna 2026.
“Mari kita hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari gerakan besar menjaga budaya dan mengangkat produk lokal kita. Jadikan Festival Budaya Muna 2026 sebagai panggung kebangkitan UMKM, ruang mempererat silaturahmi, dan bukti bahwa masyarakat Wuna mampu melestarikan budaya sekaligus membangun ekonomi berbasis kearifan lokal. Jika bukan kita yang mencintai dan mempromosikan produk Muna, lalu siapa lagi?” tutupnya.
Festival Budaya Muna 2026 mengusung tema ‘Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045’.
Selain menampilkan berbagai atraksi budaya seperti Kabasano Haroa, penyajian 1.000 dulang, Perkelahian Kuda, Modero, Tari Linda, dan Ewa Wuna, festival ini juga diharapkan menjadi ruang promosi bagi produk unggulan masyarakat Muna yang kaya akan nilai budaya dan potensi ekonomi. (redaksi)
