Bombana, (2 April 2026) — Pelayanan kesehatan kembali menjadi sorotan tajam setelah video viral memperlihatkan dugaan kelalaian serius di Puskesmas Sarawak Utara, Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana. Di saat warga membutuhkan pertolongan cepat, fasilitas yang seharusnya menjadi garda terdepan justru disebut dalam kondisi kosong tanpa tenaga medis.
Peristiwa ini diungkap langsung oleh Firman, warga yang merekam dan menyebarkan kejadian tersebut. Ia menceritakan kronologi yang dinilai mencerminkan buruknya respons layanan kesehatan. Bahkan sebelum tiba di lokasi, komunikasi dengan pihak puskesmas sudah menunjukkan indikasi lemahnya kesiapsiagaan.
Saat dihubungi oleh Kabengga.id melalui pesan singkat WhatsApp, Firman mengungkapkan bahwa upaya awal untuk mendapatkan bantuan sudah dilakukan sejak sebelum tiba di lokasi. Namun respons yang diterima justru di luar dugaan.
Menurut Firman, saat menghubungi pihak puskesmas, seorang perawat meminta untuk menunggu dengan alasan masih mandi dan mengurus anak. Pernyataan tersebut sontak memicu tanda tanya besar, mengingat kondisi darurat tidak mengenal waktu maupun alasan pribadi.
“Silakan datang dulu, jemput kami di situ, kasih infus, lalu kami bisa kembali ke rumah. Setidaknya ada penanganan awal,” ungkap Firman, menirukan harapannya saat itu. Namun kenyataan di lapangan jauh dari yang diharapkan.
Setibanya di Puskesmas sekitar pukul 07.30 pagi, Firman justru mendapati kondisi yang mengejutkan. Tidak ada satu pun tenaga medis yang berjaga. Bangunan pelayanan publik itu tampak kosong, seolah tak berfungsi.
Ironisnya, saat itu mereka sedang membawa korban kecelakaan yang membutuhkan penanganan segera. Korban diketahui bernama Rian Hairul Asri, yang diduga mengalami kondisi serius setelah ditabrak kendaraan.
Situasi ini memperlihatkan potensi kelalaian yang tidak bisa dianggap sepele. Dalam kondisi darurat, keterlambatan penanganan dapat berujung pada risiko yang lebih fatal, bahkan mengancam nyawa pasien.
Firman menegaskan bahwa puskesmas rawat inap seharusnya beroperasi selama 24 jam. Ketidakhadiran tenaga medis di pagi hari menjadi bukti lemahnya pengawasan dan tanggung jawab pelayanan publik.
“Kami sangat kecewa. Ini menyangkut nyawa manusia. Bagaimana mungkin fasilitas kesehatan tidak siaga saat masyarakat butuh pertolongan?” tegasnya dengan nada geram.
Ia pun berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh. Kejadian ini tidak hanya soal kelalaian individu, tetapi juga mencerminkan sistem pelayanan yang patut dipertanyakan.
Kini, korban telah dirujuk ke fasilitas kesehatan lain untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Namun luka kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan publik tampaknya jauh lebih sulit untuk dipulihkan.(redaksi).
